Penyusunan Peta Strategi (Strategy Map)

Metode Pemetaan Strategi

Sebuah peta strategi adalah merupakan penjabaran visi dan misi-misi dari tujuan organisasi dan langkah-langkah yang diperlukan untuk mencapai tujuan organisasi. Peta ini memungkinkan organisasi untuk mendelegasikan tanggung jawab dari tingkat pimpinan hingga individu-individu pelaksana.

Peta strategi menampilkan sasaran-sasaran stratgis yang di dalamnya terdapat satu atau lebih indikator kinerja (IKU). Ada banyak cara untuk membuat peta, mulai dari menggunakan aplikasi biasa maupun dengan sistem aplikasi berbasis website.

Peta Strategi dapat digunakan dalam pengaturan apapun tetapi secara tradisional digunakan untuk mengekspresikan empat tujuan organisasi pemerintah.Tujuan Stakeholders adalah yang paling umum, dan peta menunjukkan langkah-langkah yang diperlukan untuk meningkatkan posisi masyarakat. Selanjtunya Perspektif pelanggan digunakan untuk menunjukkan apa yang pelanggan inginkan dan harapkan terhadap organisasi pemerintah. Adapun Proses internal perspektif merupakan kunci proses dalam peta strategi karena penggunaan peta akan menunjukkan bagaimana organisasi saat ini melakukan satu atau lebih tugas dan bagaimana tugas-tugas dapat dilakukan secara lebih efisien dan berkelanjutan. Yang terakhir adalah perspektif pertumbuhan dan pembelajaran (Learn and Growth), yang berfungsi sebagai modal dasar di dalam organisasi, keterampilan yang perlu dicapai dan langkah-langkah yang diperlukan untuk memahami sepenuhnya di dalam perspektif pembelajaran dan pertumbuhan ini. Continue reading

Advertisements

Beberapa Konsep Pengukuran “Kesejahteraan Masyarakat”…

Hampir dapat dipastikan bahwa tujuan pembangunan manusia dari semua paham-paham pembangunan adalah membawa umat manusia menuju kepada kesejahteraan (Adesina, Social, & Programme, 2010; Dreher, 2006; Kumlin & Rothstein, 2005; Midgley, 2006). Bahkan jika ditinjau dari aspek penegakan hak-hak asasi manusia pun, sesungguhnya pembangunan manusia haruslah dalam rangka pemenuhan unsur-unsur kesejahteraannya (ADB, 2003; Ife, 2007, 2009).

Konsep dan pengukuran tingkat kesejahteraan masyarakat yang selama ini berkembang dan digunakan oleh beberapa negara senantiasa mempergunakan ukuran yang bersifat multi-dimensional. Hal ini dapat dipahami karena isu kesejahteraan masyarakat memiliki kompleksitas persoalan yang sangat beragam, yang tidak bisa diselesaikan melalui pendekatan satu dimensi/variabel (single dimension) saja. Berikut terdapat beberapakonsep pengukuran kesejahteraan yang digunakan oleh negara-negara maju di dunia hingga saat yakni:

1.  Human Development Index (HDI)

Konsep pengukuran HDI atau yang dikenal dengan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dikembangkan oleh UNDP guna menduukung konsep pembangunan berkelanjutan. Inti dari konsep kesejahteraan adalah melakukan “social invesment” guna menghasilkan SDM yang berkualitas sebagai motor penggerak utama pembangunan berkelanjutan. Indeks ini berfungsi untuk mengukur perkembangan pembangunan manusia di suatu negara, dengan 4 (empat) indikator utama, yakni: (1) angka melek huruf; (2) angka partisipasi pendidikan; (3) angka harapan hidup; dan (4) PDB Per Kapita (daya beli). Jadi, IPM melihat konsep kesejahteraan secara parsial, yakni dari sudut pandang pendidikan, kesehatan, dan tingkat pengeluaran riil untuk memenuhi kebutuhan per individu(Osberg & Sharpe, 2003; Setiawan & Hakim, 2013). Continue reading

Pengukuran Kinerja

Sering kali saya menemukan organisasi pemerintah menetapkan indikator kemudian menuliskan pencapaian misalnya tercapai 100%. Namun sesunggunya jika ditelusuri, mereka hanya menuliskan pencapaian realisasi keuangan….
Sesungguhnya, pencapaian kinerja sangat jauh lebih dalam lebih dari sekedar menuliskan realisasi biasa.
Berikut penjelasan saya, mengapa pengukuran kinerja sangatlah berbeda dengan menuliskan pencapaian kinerja seperti menuliskan realisasi fisik keuangan pada laporan keuangan…
Indikator atau IKU yang sudah terukur dengan benar itu memiliki berbagai persyaratan spesifik, seperti :
1. Sebuah Indikator haruslah memiliki definisi dan batasan yang jelas.
2. Sebuah indikator (IKU) haruslah memilki formula, sehingga indikator yang berbeda pastilah memiliki formula yang berbeda. Bahkan IKU yang dama pun, dapat berbeda formulanya ketika diturunkan dengan pola berbeda. Misalnya siturunkan dgn metode Adobsi langsung, diturunkan dengan motode linngkup dipersempit, diturunkan dengan metode komponen pembentuk, dan diturunkan dengan cara membuat IKU-IKU baru. Dari sini, formula IKU yang sama tadi akan berbeda nantinya.
3. Sebuah IKU, memilki polarisasi; Maximize, Minimize dan stabilize. Polarisasi IKU ini sangatlah penting, karena tidak semua iku makin meningkat makin baik. Misalnya persentase korupsi, persentase tingkat kriminalitas dll. Dari polarisasi iku ini, akan menyebabkan perbedaan formula/Rumus pula.
4. IKU harus memiliki penanggugjawab, dan kepada unit kerja mana IKU itu dibebankan atau diturunkan,
5. Oleh karena IKU harus diturunkan, maka IKU haruslah diCASCADE (diturunkan), dan selanjutnya dilakukan ALIGNMENT (diselaraskan).
6. Iku harus memiliki sumber dan penanggungjawab data terkait IKU dimaksud
7. IKU memiliki batasan waktu pengukuran
8. Pencapaian pengukuran IKU akan berdampak kepada pencapain Sasaran Strategisnya (SS). Sehingga jika IKU tidak terukur maka mustahil Sasaran strategis di dalam dokumen perencanaan dapat diketahui. Oleh karenanya SS yang ada di dalam peta strategy organisasi, haruslah memiliki satu atau lebih IKU/Indikator.
Sekarang, masihkah kita beranggapan bahwa, pengukuran realisasi pencapaian biasa sama dengan pengukuran kinerja ?

Berikut secara umum beberapa kriteria yang harus dimiliki pada pengukuran kinerja (measurement of performance) :

  1. Evaluasi kinerja menekankan keterkaitan hubungan sebab akibat antara pencapaian tujuan dan sasaran dengan fakta di lapangan. Hal ini berarti bahwa pengukuran kinerja suatu kebijakan, program, dan kegiatan tidak hanya memperhitungkan persepsi pelaksana kegiatan/program, kelompok masyarakat atau seluruh masyarakat terhadap manfaat kebijakan, program, dan kegiatan tersebut, tetapi perlu didukung oleh bukti nyata pengukuran kinerja kegiatan bahwa dampak yang timbul merupakan konsekuensi dari hasil serangkaian tindakan yang dilakukan dalam pelaksanaan kebijakan, program, dan kegiatan. Oleh karena itu serentetan input-proses hingga dampak, haruslah memiliki hubungan sebab akibat yang jelas dalam proses Logic Model.
  2. Sebuah pengukuran kinerja sangat mekankan pengukuran “measurement”  terhadap outcome hingga impact suatu kebijakan, program, kegiatan, dan tata cara untuk melakukan pengukuran kinerja terhadap tujuan dan sasaran kebijakan dan program.
  3. Pengukuran kinerja berorientasi pada kinerja saat ini dibandingkan dengan kinerja yang lalu. Sehingga nantinya akan ada gambaran nyata (delta perubahan) atas atas kinerja masa sebelumnya, sekaligus dapat meletakkan target masa depan dengan benar karena telah ada basadata capaian kinerja sebelumnya. Dengan demikian hasil pengukuran kinerja ini bersifat acuan dasar terhadap target kinerja di masa mendatang.
  4. Pengukuran kinerja memberikan hasil evaluasi yang menyeluruh dari semua level proses hingga dampak suatu kegiatan, sehingga distribusi anggaran dapat terpetakan dan diukur semua pencapaian kinerjanya. Dari proses ini akan membantu dalam penilaian atas pencapaian program, sasaran hingga level kegiatan.

Social Welfare

BEBERAPA KONSEP PENGUKURAN “KESEJAHTERAAN MASYARAKAT”  DI DUNIA

Hampir dapat dipastikan bahwa tujuan pembangunan manusia dari semua paham-paham pembangunan adalah membawa umat manusia menuju kepada kesejahteraan (Adesina, Social, & Programme, 2010; Dreher, 2006; Kumlin & Rothstein, 2005; Midgley, 2006).Bahkan jika ditinjau dari aspek penegakan hak-hak asasi manusia pun, sesungguhnya pembangunan manusia haruslah dalam rangka pemenuhan unsur-unsur kesejahteraannya (ADB, 2003; Ife, 2007, 2009).
Konsep dan pengukuran tingkat kesejahteraan masyarakat yang selama ini berkembang dan digunakan oleh beberapa Negara senantiasa mempergunakan ukuran yang bersifat multi-dimensional. Hal ini dapat dipahami karena isu kesejahteraan masyarakat memiliki kompleksitas persoalan yang sangat beragam, yang tidak bias diselesaikan melalui pendekatan satu dimensi/variabel (single dimension) saja. Berikut terdapat beberapa konsep pengukuran kesejahteraan yang digunakan oleh negara-negara maju di dunia hingga saat ini, yakni:

1.      Human Development Index (HDI)

Konsep pengukuran HDI atau yang dikenal dengan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dikembangkan oleh UNDP guna menduukung konsep pembangunan berkelanjutan. Inti dari konsep kesejahteraan dalah melakukan “social invesment” guna menghasilkan SDM yang berkualitas sebagai motor penggerak utama pembangunan berkelanjutan. Indeks ini berfungsi untuk mengukur perkembangan pembangunan manusia di suatu negara, dengan 4 (empat) indikator utama, yakni: (1) angka melek huruf; (2) angka partisipasi pendidikan; (3) angka harapan hidup; dan (4) PDB Per Kapita (daya beli). Jadi, IPM melihat konsep kesejahteraan secara parsial, yakni dari sudut pandang pendidikan, kesehatan, dan tingkat pengeluaran riil untuk memenuhi kebutuhan per individu (Osberg & Sharpe, 2003; Setiawan & Hakim, 2013). Continue reading

PENTINGNYA TATA RUANG DAN PENATAAN RUANG KOTA

      Penataan ruang adalah menyangkut seluruh aspek kehidupan sehingga masyarakat perlu mendapat akses dalam proses perencanaan penataan ruang. Konsep dasar hukum penataan ruang terdapat dalam pembukaan Undang – Undang Dasar 1945 aliniea ke-4, yang menyatakan “Melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut serta melaksanakan ketertiban dunia”. Selanjutnya, dalam pasal 33 ayat (3) Undang-Undang Dasar 1945 menyatakan “Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat”.Ketentuan dasar inilah yang memberikan “hak penguasaan kepada Negara atas seluruh sumber daya alam Indonesia, danmemberikan kewajiban kepada Negara untuk menggunakan sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat.” Kalimat tersebut mengandung makna, Negara mempunyai kewenangan untuk melakukan pengelolaan, mengambil dan memanfaatkan sumber daya alam guna terlaksananya kesejahteraan yang dikehendaki. Untuk dapat mewujudkan tujuan Negara tersebut, khususnya untuk meningkatkan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa berarti Negara harus dapat melaksanakan pembangunan sebagai penunjang dalam tercapainya tujuan tersebut dengan suatu perencanaan yang cermat dan terarah. Continue reading

Kasus Sedimen

Kasus (1). Gelombang laut dalam tinggi 2 m dan dengan periode 12 detik mempunyai sudut datang 150 (antara crest dengan shoreline). Gelombang pecah pada shoreline dengan sudut 70. Estimasikan berapa transport sediment yang terjadi.

Kasus (2). Gelombang pecah pada shoreline dengan kedalaman air 5 m tinggi gelombang pecah 4 m dengan sudut datang 70. Estimasikan berapa transport sediment yang terjadi.

Pembahasan
DASAR TEORI

Littoral process adalah merupakan hasil interaksi antara angin, gelombang, arus, pasang surut, sediment dan lain-lain kejadian di daerah littoral ((littoral zone). Terjadinya erosi dan akresi pada suatu pantai adalah contohnya, dimana erosi maupun akresi pada suatu pantai sangat tergantung dan dipengaruhi oleh pada keadaan angkutan sediment (transport sediment) di daerah tersebut.

Transpor sedimen di daerah littoral (littoral transport) dapat diklasifikasikan menjadi; 1. On shore off shore transport yaitu angkutan sediment terjadi dari pantai ke laut atau sebaliknya, 2. Longshore transport yaitu angkutan sediment di sepanjang pantai. Continue reading

Coastal Engineering

Citation:

Volume/Issue list for
Coastal Engineering
Master Indexes Volumes 1-30
Cumulative Contents Volumes 1-30 (PDF 104.496 bytes)
Author Index Volumes 1-30 (PDF 139.799 bytes)
Subject Index Volumes 1-30 (PDF 49.765 bytes)
Year 2000
Volume 40, Issue 2, 01-May-2000
M.A. Cotton, P.K. Stansby, Bed frictional characteristics in a turbulent flow driven by nonlinear waves, Coastal Engineering (40)2 (2000) pp. 91-117
[Full text] (PDF 370 Kbytes)

Marek Szmytkiewicz, Jaroslaw Biegowski, Leszek M. Kaczmarek, Tomasz Okrój, Rafal Ostrowski, Zbigniew Pruszak, Grzegorz Ró{z.}y{n´}sky, Marek Skaja,
Coastline changes nearby harbour structures: comparative analysis of one-line models versus field data, Coastal Engineering (40)2 (2000) pp. 119-139
[Full text] (PDF 551 Kbytes) Continue reading

Soft System Methodology (SSM)

very good…

Gigih Forda Nama - An Ordinary People

Resume Soft System Methodology dari Prof. Pak Riri Satria

Pada awalnya pendekatan SSM ini terlihat sebagai alat pemodelan biasa, tapi setelah adanya pengembangan, pendekatan itu telah meningkat sebagai alat pembelajaran dan alat pengembangan sebagai pembantu dalam mengartikan masalah. SSM adalah sebuah metodologi untuk menganalisis dan pemodelan sistem yang mengintegrasikan teknologi (hard) sistem dan  human  (soft) sistem. SSM adalah pendekatan untuk pemodelan proses di dalam organisasi dan lingkungannya dan sering digunakan dalam pemodelan manajemen perubahan, di mana organisasi pembelajaran itu sendiri merupakan manajemen perubahan.

Soft systems methodology assume:
– organisational problems are ‘messy’, poorly defined
– stakeholders interpret problems differently
– no objective reality
– human factors important
– creative and intuitive approach to problem-solving

The 7 Stages of SSM

Tahap 1:   Situation Considered Problematic, problem yang dimaksudkan lebih sesuai disebut problem situation, karena umumnya masalah yang harus diselesaikan lebih dari satu sehingga perlu identifikasi satu per satu;
Tahap 2: 

View original post 279 more words

Contoh kasus sediment transport dengan rumus manual….

Kasus
Kasus (1). Gelombang laut dalam tinggi 2 m dan dengan periode 12 detik mempunyai sudut datang 150 (antara crest dengan shoreline). Gelombang pecah pada shoreline dengan sudut 70. Estimasikan berapa transport sediment yang terjadi.

Kasus (2). Gelombang pecah pada shoreline dengan kedalaman air 5 m tinggi gelombang pecah 4 m dengan sudut datang 70. Estimasikan berapa transport sediment yang terjadi.

Pembahasan
DASAR TEORI

Littoral process adalah merupakan hasil interaksi antara angin, gelombang, arus, pasang surut, sediment dan lain-lain kejadian di daerah littoral ((littoral zone). Terjadinya erosi dan akresi pada suatu pantai adalah contohnya, dimana erosi maupun akresi pada suatu pantai sangat tergantung dan dipengaruhi oleh pada keadaan angkutan sediment (transport sediment) di daerah tersebut.

Transpor sedimen di daerah littoral (littoral transport) dapat diklasifikasikan menjadi; 1. On shore off shore transport yaitu angkutan sediment terjadi dari pantai ke laut atau sebaliknya, 2. Longshore transport yaitu angkutan sediment di sepanjang pantai.

Sementara littoral transport dapat terjadi dalam 2 cara yaitu sebagai :
1. Suspended load transport, dimana material suspensinya terjadi di dalam kolam air dan dipertahankan oleh turbulensi air agar tetap di atas dasar.
2. Bed Load transport, dimana konsentrasi sediment yang bergerak disekitar dan sangat dekat dengan dasar (pengendapan), digerakkan pada keadaan terdispersi oleh kontak antar butir sediment.

Meskipun secara definitive perbedaanya sangat jelas tetapi kenyataannya kedua cara tersebut terjadi bersama-sama sehingga dalam pengukuran sulit memisahkan antara suspended dan bed load. Namun rasio suspension transport dengan total transport (suspended + bed load) diperkirakan kurang lebih 0,2.

Transport sediment sepanjang pantai terdiri dari dua komponen utama yaitu :
1. Transpor sedimen dalam bentuk mata gergaji di garis pantai. Pada waktu gelombang menuju pantai dengan membentuk sudut terhadap garis pantai maka gelombang tersebut akan naik ke pantai (uprush) yang juga membentuk sudut, massa air yang naik tersebut kemudian turun lagi dalam arah dalam arah tegak lurus pantai, gerak air tesebut membentuk lintasan seperti mata gergaji yang disertai dengan terangkutnya sediment dalam arah sepanjang pantai.

2. Transpor sedimen sepanjang pantai di surf zone. Yaitu transport sediment yang ditimbulkan oleh arus sepanjang pantai yang dibangkitkan oleh gelombang pecah yang terjadi di surf zone.

Longshore Transport dari pasir di pantai termanifestasikan ketika gerakan ini dihalangi oleh suatu konstruksi, seperti : Breakwater, jetties, dan groins. Struktur ini berperan menghalangi “littoral drift” menyebabkan terjadinya / deposisi / akresi sediment di pantai pada updrift dan terjadi erosi terus menerus pada downdrift (lihat gambar 3 sampai 5).

Bangunan Pelindung Pantai
a. GROINS
Adalah struktur pelindung pantai yang didisain untuk menahan longshore sedimen/material. Terdiri dari struktur tipis dengan panjang bervariasi, tinggi bervariasi, dibuat tegak lurus dengan garis pantai.

b. J E T T Y
Adalah bangunan tegak lurus pantai yang diletakkan pada kedua sisi muara sungai yang berfungsi untuk mengurangi pendangkalan alur oleh sediment pantai.

c. Breakwater
Breakwater type shore connected, adalah struktur yang berfungsi melindungi daerah pantai, pelabuhan, perairan dari gelombang.

Breakwater type offshore, adalah struktur yang dirancang untuk memberi perlindungan terhadap gelombang pada suatu daerah perairan atau pantai didekat struktur breakwater.

Solusi

Kasus (1). Gelombang laut dalam tinggi 2 m dan dengan periode 12 detik mempunyai sudut datang 150 (antara crest dengan shoreline). Gelombang pecah pada shoreline dengan sudut 70. Estimasikan berapa transport sediment yang terjadi.

Analisa Karakteristik Gelombang
Diketahui : – H0 = tinggi gelombang di laut dalam = 2 m
– T = periode gelombang = 12 detik
– α0 = Sudut datang gelombang dari laut = 150 antara crest dan shoreline
– αb = Sudut datang gelombang pecah pada shoreline = 70

mencari – L0 = panjang gelombang laut dalam
– C0 = Celerity gelombang

Diperoleh :
– L0 = 1,56 T2 = 1,56 (12)2 = 224,64 m
– C0 = L0 / T = 224,64 / 12 = 18,72 m/detik
Kesimpulan :
– H0 = 2 m – T = 12 detik
– L0 = 224,64 m – C0 = 18,72 m/detik

Refraksi Gelombang
Selama perambatan gelombang selain terjadi perubahan tinggi gelombang dan cepat rambat gelombang juga terjadi pembelokan arah puncak gelombang mengikuti bentuk kontur laut, pada kondisi ini gelombang tersebut dikatakan mengalami refraksi.
Koefisien refraksi (Kr)
Kr = = = 0,986
Tinggi gelombang laut dalam ekivalen (H’0) jika tinggi gelombang datang dari laut dalam H0 = 2 meter adalah :
H’0 = Ks Kr Ho dimana Ks dianggap = 1
= 1 x 0,986 x 2 = 1,972 meter
Jadi tinggi gelombang (H’0) adalah = 1,972 meter.

Menghitung Gelombang Pecah
Apabila gelombang bergerak menuju laut dangkal, kemiringan batas gelombang tergantung pada kedalaman relative d/L dan kemiringan dasar laut m. Gelombang dari laut dalam yang bergerak menuju pantai akan bertambah kemiringannya sampai akhirnya tidak stabil dan pecah pada kedalaman tertentu, yang disebut dengan kedalaman gelombang pecah db. Tinggi gelombang pecah diberi notasi Hb. Munk (1949, dalam CERC, 1984) memberikan rumus untuk menentukan tinggi dan kedalaman gelombang pecah sebagai berikut :

(Parameter Hb/H’0 disebut dengan indek tinggi gelombang pecah. Rumus di atas tidak memberikan pengaruh kemiringan dasar laut terhadap gelombang pecah).
dimana :
Hb = Tinggi gelombang pecah (m)
H’0 = Tinggi gelombang laut dalam ekivalen = 1,972 m
db = Kedalaman air dimana gelombang pecah (m)
L0 = Panjang gelombang laut dalam = 224,64 m
sehingga
= 1,466
Hb = 1,466 (1,972) = 2,89 m

db = 1,28 (2,89) = 3,699 m
Cepat rambat gelombang pecah (Cb)

= 6,023 m/det.

Kesimpulan :
– Hb = 2,89 m
– db = 3,699 m
– Cb = 6,023 m/detik
– αb = 70

Menghitung Transpor Sedimen yang terjadi

Menghitung / memprediksi transpor sedimen sepanjang pantai disini kami menggunakan rumus empiris yang didasarkan pada kondisi gelombang di daerah yang ditinjau. Rumus yang ada untuk menghitung transpor sedimen sepanjang pantai dikembangkan berdasar data pengukuran model dan prototip pada pantai berpasir. Sebagian rumus-rumus (lihat tabel 1) tersebut merupakan hubungan yang sederhana antara transpor sedimen dan komponen fluks energi gelombang sepanjang pantai dalam bentuk persamaan umum :

Pl =
Atau menggunakan persamaan dalam SPM 1984 (Ch. 4, Sec. IV.5, eqs. (4-37)), pendekatan untuk Pl pada daerah breaker line adalah :

Karena,

Di mana :
Qs = angkutan sedimen sepanjang pantai (m3 / hari)
Pl = komponen fluks energi gelombang sepanjang pantai pada breaker line (Nm/d/m)
ρ = rapat massa air laut = 1,03 ton/m3
Hb = tinggi gelombang pecah = 2,89 m
db = kedalaman gelombang pecah = 3,699 m
Cb = cepat rambat gelombang pecah = 6,023 m/d
= sudut datang gelombang pecah = 70
K, n = konstanta (dimensionless) lihat table 1.

Tabel 1. Beberapa rumus empiris transpor sediment sepanjang pantai
No Nama Rumus Empiris
1
2
3
4
5
6
7
8
9 Caldwell
Savage
Ijima, Sato, Aono, Ishi
Ichikawa, Achiai, Tomita, Murobuse
Ijima, Sato
Tanaka
Komar, Inman
Das
CERC Qs = 1,200 Pl0,8
Qs = 0,219 Pl
Qs = 0,130 Pl054
Qs = 0,130 Pl0,8
Qs = 0,060 Pl
Qs = 0,120 Pl
Qs = 0,778 Pl
Qs = 0,325 Pl
Qs = 0,401 Pl
Sumber. Triatmojdo, 1999
Menghitung Nilai Pl
Pl =
= = 0,7831 tm/d/m
= 0,7831 x 24 x 3600 = 67,659 x 103 tm/hari/m

Nilai Qs Lihat table 2.

Tabel 2. Nilai transpor sediment sepanjang pantai
No Nama Nilai Qs (m3/hari)
1
2
3
4
5
6
7
8
9 Caldwell
Savage
Ijima, Sato, Aono, Ishi
Ichikawa, Achiai, Tomita, Murobuse
Ijima, Sato
Tanaka
Komar, Inman
Das
CERC 8.779
14.817
53
951
4.060
8.119
52.639
21.989
27.131

Kasus (2). Gelombang pecah pada shoreline dengan kedalaman air 5 m tinggi gelombang pecah 4 m dengan sudut datang 70. Estimasikan berapa transport sediment yang terjadi.

Jika : – Hb = tinggi gelombang pecah = 4 m
– αb = Sudut datang gelombang pecah pada shoreline = 70
– db = Kedalaman air gelombang pecah = 5 m
Maka Transpor Sedimen yang terjadi

Di mana :
Qs = angkutan sedimen sepanjang pantai (m3 / hari)
Pl = komponen fluks energi gelombang sepanjang pantai pada breaker line (Nm/d/m)
ρ = rapat massa air laut = 1,03 ton/m3
Hb = tinggi gelombang pecah = 4 m
Cb = cepat rambat gelombang pecah = (g x db)1/2 m/d
= sudut datang gelombang pecah = 70
K, n = konstanta (dimensionless) lihat table 1.

Menghitung Nilai Pl
Pl =
= = 1,7442 tm/d/m
= 1,7442 x 24 x 3600 = 1,5069 x 105 tm/hari/m

Nilai Qs Lihat table 3.

Tabel 3. Nilai transpor sediment sepanjang pantai (soal nomor 2)
No Nama Nilai Qs (m3/hari)
1
2
3
4
5
6
7
8
9 Caldwell
Savage
Ijima, Sato, Aono, Ishi
Ichikawa, Achiai, Tomita, Murobuse
Ijima, Sato
Tanaka
Komar, Inman
Das
CERC
16,659
33,001
81
1,805
9,041
18,083
117,237
48,974
60,427

KESIMPULAN
Berdasarkan perhitungan transpor sedimen dari kedua nomor soal di atas, ternyata nilai Qb yang diperlihatkan pada table 2 dan table 3 untuk masing – masing rumus empiris yang ada, terlihat bahwa masing – masing rumus memberikan perbedaan yang cukup besar.

CERC, “ Shore Protection Manual ”, Departemnt of The Army US Army Corps of Engineers, Washington DC, 1984.
Komar, Paul D, “ Beach Processes and Sedimentation ”, Prentice-Hall, Inc., Englewood Cliffs, New Jersey, 1976.
Triatmojdo Bambang, “ Teknik Pantai ”, Beta Offset, Yogyakarta, 1999.
Wahyudi, “ Longshore Transport of Sediment On Beaches ” Bahan kuliah Proses-proses Pantai, ITS-Surabaya, 2004.
Yuwono Nur, “ Teknik Pantai ” Biro Penerbit Keluarga mahasiswa Teknik Sipil Universitas Gajah Mada, Yogyakarta, 1982.